Apakah catur Cina dimainkan di Indonesia?
Ya, dan jauh lebih lama daripada dugaan kebanyakan orang. Xiangqi tiba di Nusantara bersama komunitas Tionghoa yang menetap di kota-kota pelabuhan sejak berabad-abad lalu, dan sampai hari ini permainan ini paling hidup di daerah dengan akar Tionghoa yang kuat — Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, Sumatra Utara, Jakarta, dan Jawa. Wadah nasionalnya, Persatuan Xiangqi Indonesia (PEXI), kini punya anggota di 16 provinsi dan membina atlet nasional. Jadi ketika kamu membaca bahwa Xiangqi dimainkan 500 juta orang di dunia, Indonesia bukan sekadar penonton di pinggir: ia punya federasi, punya turnamen, dan punya sejarah organisasinya sendiri yang berumur hampir setengah abad.
Kenapa di Indonesia ia sempat disebut 'catur gajah'?
Kata xiang (象) dalam bahasa Tionghoa berarti gajah, dan qi (棋) berarti catur — sehingga secara harfiah xiangqi bisa dibaca sebagai "catur gajah". Penamaan itu bukan sekadar catatan kaki bahasa di Indonesia: organisasi nasionalnya pernah benar-benar bernama Persatuan Catur Gajah Indonesia (Percagi), dan pada 1982 wadah ini diterima sebagai unit di bawah PERCASI dengan nama Percasi Unit Catur Gajah. Baru pada 1999 namanya diubah menjadi Percasi Unit Xiangqi. Karena itu, kalau kamu mendengar orang tua di Indonesia menyebut permainan ini "catur gajah" alih-alih "catur Cina" atau "Xiangqi", itu bukan kekeliruan — itu istilah resmi yang dipakai selama bertahun-tahun.
Dua puluh tahun tanpa aksara Tionghoa
Inilah bagian sejarah Xiangqi Indonesia yang tidak dimiliki negara lain mana pun. Selama dua puluh tahun, dari 1979 sampai 1999, permainan ini di Indonesia dimainkan dengan bidak yang tidak memakai aksara Tionghoa. Papan dan aturannya tetap, tetapi tulisan di atas bidaknya — 帥, 士, 相, 車, 馬, 炮, 兵 — ditiadakan. Baru pada 1999 Xiangqi di Indonesia kembali memakai papan dan bidak sebagaimana mestinya. Rentang tahun itu bukan kebetulan: ia berimpit dengan masa Orde Baru yang membatasi penggunaan aksara dan ekspresi Tionghoa di ruang publik, pembatasan yang baru dilonggarkan setelah 1998. Dengan kata lain, komunitas Xiangqi Indonesia menjaga permainannya tetap hidup dengan cara melepas tulisannya lebih dulu, lalu mengambilnya kembali begitu keadaan memungkinkan. Sedikit sekali permainan papan di dunia yang punya babak seperti ini dalam riwayatnya.
Dari ISCI ke PEXI: garis waktu organisasinya
Organisasi nasional Xiangqi Indonesia berdiri pada 27 Juli 1979 dengan nama Ikatan Shiang Chi Indonesia (ISCI), didirikan sembilan orang pendiri. Seiring waktu namanya berubah menjadi Persatuan Catur Gajah Indonesia (Percagi). Pada 1982, wadah nasional ini diterima berafiliasi dengan PERCASI sebagai Percasi Unit Catur Gajah, dan pada 1999 namanya disesuaikan menjadi Percasi Unit Xiangqi seiring kembalinya bidak beraksara Tionghoa. Babak terakhirnya berlangsung di era Reformasi: lewat Musyawarah Nasional di Hotel Jatra, Jakarta Barat, pada 18 Agustus 2000, dideklarasikan berdirinya Persatuan Xiangqi Indonesia (PEXI) dengan AD/ART yang baru. Empat nama dalam empat dasawarsa — dan tiap pergantian nama menandai pergeseran keadaan di luar papan, bukan perubahan pada permainannya sendiri.
Xiangqi di Asia Tenggara dan SEA Games
Di tingkat kawasan, Xiangqi memperoleh dorongan besar ketika ia debut di SEA Games 2021, yang karena pandemi baru digelar pada Mei 2022 di Legacy Yên Tử, Quảng Ninh, Vietnam. Empat nomor dipertandingkan: perorangan putra dan putri, serta beregu putra cepat dan kilat. Vietnam mendominasi dengan 3 emas, disusul Singapura dengan 1 emas, sementara Malaysia dan Thailand melengkapi daftar peraih medali. Indonesia tidak termasuk di antara peraih medali pada edisi itu — kenyataan yang justru menunjukkan di mana letak pekerjaan rumahnya. Xiangqi kembali dipertandingkan di SEA Games 2023. Bagi Indonesia, kehadiran cabang ini di ajang resmi kawasan adalah pintu yang penting: ia mengubah Xiangqi dari kegiatan komunitas menjadi cabang olahraga dengan jalur pembinaan yang jelas. Lihat juga Xiangqi di Asian Games untuk konteks yang lebih luas.
Di mana Xiangqi hidup di Indonesia hari ini
Singkawang, Kalimantan Barat, adalah salah satu pusatnya yang paling terlihat: turnamen Xiangqi di sana digelar secara terbuka dan dibingkai sebagai upaya menjaga warisan budaya Tionghoa, dengan dukungan pemerintah kota. Di Kepulauan Riau, khususnya Batam, sejumlah tokoh setempat aktif memperkenalkan Xiangqi kepada generasi muda sebagai olahraga pikiran, bukan sekadar permainan warisan keluarga. Di kota-kota besar, permainan ini hidup lebih diam-diam: di rumah, di perkumpulan marga, di kedai kopi. Pola ini mirip dengan yang terjadi di budaya Tionghoa pada umumnya — Xiangqi berpindah tangan lewat keluarga dan lingkungan sebelum lewat klub. Yang berubah dalam sepuluh tahun terakhir adalah internet: seorang pemula di Surabaya kini bisa berlatih melawan lawan sekuat apa pun tanpa perlu menemukan seorang guru lebih dulu.
Cara mulai bermain dan ikut serta
Kalau kamu ingin bermain secara serius, jalur formalnya lewat PEXI, yang bisa mengarahkanmu ke pengurus provinsi, klub setempat, dan turnamen nasional — dan federasi inilah yang menjadi rujukan untuk peristilahan bidak dalam bahasa Indonesia yang dipakai di seluruh artikel kami: Raja, Menteri, Gajah, Benteng, Kuda, Meriam, Pion. Kalau kamu baru mulai, dua hal yang paling cepat membuahkan hasil adalah menghafal gerakan bidaknya lewat panduan lengkap bermain Xiangqi dan langsung bermain melawan lawan yang setingkat. Bagi kamu yang sudah bermain catur — dan di Indonesia itu berarti sangat banyak orang — panduan dari catur ke catur Cina memangkas separuh waktu belajarnya. Mulai sekarang juga di Xiangqi One, yang tersedia sepenuhnya dalam bahasa Indonesia.



